Friday, August 15, 2003
LEAFLET DPCU KOTA CIREBON
Pengantar: Selain Kabupaten Sumedang, Kota Cirebon juga menerbitkan secara rutin Leaflet untuk kepentingan sosialisasi Program Siklus ke-6. Berikut ini di muat Leaflet Edisi 2 / Juni 2003, dengan kontibutor dari Dinkes, MCR, dan Kabid Sosbud Kota Cirebon. (idjaz).
Editorial (Sista ñ District Faciliator)
Dalam usaha meningkatkan pemahaman, kepekaan, pengetahuan dan sikap masyarakat sasaran dalam Kesehatan Reproduksi, Keluarga Berencana, Gender serta kependudukan dan Pembangunan. Departemen Kesehatan, BKKBN, dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan telah mengembangkan dan mencetak berbagai bahan KIE. Pada triwulan pertama telah didistribusikan leaflet, booklet dan poster. Bahan-bahan tersebut dimaksudkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut di lapangan. Dapatkanlah informasi yang sejelas-jelasnya mengenai kesehatan Reproduksi pada Puskesmas dan Rumah Sakit. Misalnya Infeksi Menular Seksual yang meliputi sphilis, gonorhea, HIV/AIDS, dll. Diri kita jangan sampai dihinggapi penyakit kelamin tersebut di atas. Bagaimana nasib anak dan cucu kita nantinya? Janganlah mengorbankan generasi sekarang hanya untuk mendapat jalan keluar yang sesaat.
BULLETIN CREWS
General Advisor : H.Bachrudin, Sjaroni, SE, MM
Co-Advisor : Dr.Kartini,
Suhardi, M.Kes
Editor : Sista Wahyu Murwani
Contributors : Suryadi, A.Resta S
Editorial Address :
DPCU ñ UNFPA , BAPPEDA Kota Cirebon
Jl. Dr. Ciptomangunkusumo No. 99
Telp./fax. (0231) 235588
FORUM KOMUNIKASI GENDER KOTA CIREBON
(Dr. Kartini S.M.Kes, Kabid Sosbud Bapeda Kota Cirebon)
Dalam upaya menjabarkan SK Walikota tentang pembentukan forum komunikasi, konsultasi dan koordinasi Gender kota Cirebon tanggal 16 Desember 2002, dalam bentuk adanya :
1.Pengurus Harian FORKOM GENDER
2.Penegasan tugas masing-masing seksi
3.Menyusun mekanisme penanganan kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Pembentukan Forum Komunikasi Gender (FORKOM GENDER) tersebut di atas merupakan tindak lanjut terhadap fenomena kekerasan khususnya yang berada di Kota Cirebon. Fenomena kekerasan merupakan persoalan bangsa yang harus dicarikan solusinya terutama kekerasan terhadap perempuan. Apalagi sekitar separuh penduduk Indonesia adalah perempuan yang memberikan arti bahwa kondisi perempuan di Indonesia merupakan salah satu indikator atau cerminan dari sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan indeks kualitas hidup di Indonesia digambarkan melalui Human Development Index (HDI) yang masih rendah dan tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Masih rendahnya kualitas sumber daya perempuan inilah salah satunya berakibat pada seringnya perempuan dijadikan korban kekerasan. Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia merupakan silet pandemic yang belum ada perhatian dari institusi terkait, baik kepolisian, kejaksaan, maupun Pengadilan. Namun dalam kenyataan bahwa kekerasan tersebut tidak hanya terjadi pada lingkungan yang kurang berpendidikan. Menurut data berbagai lembaga memperlihatkan, perempuan korban memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Cukup banyak perempuan korban yang juga berpendidikan tinggi. Perempuan korban kekerasan tersebut memerlukan tidak hanya layanan medis dan bantuan hukum untuk memulihkan, namun juga sangat membutuhkan layanan psikologis serta dukungan sosial dan sikap empati dari masyarakat untuk benar-benar mampu kembali berdaya.
Ternyata korban kekerasan tidak hanya kaum perempuan. Kita sering melihat pada berbagai media baik televisi dan media massa, anak-anak baik anak laki-laki ataupun perempuan pun menjadi korban kekerasan. Kejadian tersebut sering terungkap pada pemerkosaan anak, sodomi anak, penjualan anak. Baru-baru ini diberitakan baik di mass media dan televisi terjadi perlakuan sodomi pada 11 anak di kelurahan Drajat ñ Cirebon. Hal ini bisa saja terjadi di lingkungan sekitar kita. Apakah kita tetap tak peduli, tidak empati dan tidak memberikan dukungan sosial pada semua hal yang terjadi di lingkungan kita? MARI KITA SAMA-SAMA berupaya dalam melindungi anak dan perempuan khususnya di KOTA kita tercinta.
PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI
(Tim PKRE Dinas Kesehatan Kota Cirebon)
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi serta fungsi dan perannya. Karena setiap individu mempunyai hak untuk mengatur jumlah keluarga, kapan mempunyai anak dan mendapatkan penjelasan tentang cara-cara berkontrasepsi.
Begitu juga hak mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya seperti pelayanan antenatal, persalinan, nifas, BBL dan kesehatan remaja. Kesehatan Reproduksi meliputi meliputi 4 komponen yaitu kesehatan Ibu dan bayi baru lahir, KB, Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi termasuk PMS, HIV/AIDS dan Kesehatan Reproduksi Remaja. 4 komponen tersebut disebut PKRE (Paket Kesehatan Reproduksi Esensial). Apabila ditambah dengan kesehatan Reproduksi pada Usia Lanjut di sebut PKRK (Paket Kesehatan Reproduksi Komprehensif). Puskesmas Program UNFPA menyediakan layanan PKRE yaitu Kejaksaan, Nelayan, Gunungsari Sunyaragi, Jagasatru, Astanagarib, Kesunean Pesisir, Kalitanjung, PERUM.
KEGIATAN MITRA CITRA REMAJA
(Sri Maryati ñ MCR Kota Cirebon)
Kegiatan utama yang telah dilaksanakan oleh MCR dalam periode Mei-Juli 2003 diantaranya Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja pada tingkat kelurahan dan pelaksanaan TOT bagi pembina pramuka dan guru SD, SMP. Pada bulan April 2003 telah dilaksanakan kegiatan training teachers untuk program 10 ñ 14 tahun sebanyak 5 angkatan yang diikuti oleh 30 sekolah bertempat di Sekretariat Kwartir Cabang Kota Cirebon sedangkan pada bulan Juni 2003 dilaksanakan untuk 4 angkatan yang bertempat di Gedung Pemuda Kota Cirebon. Sampai dengan triwulan II tahun 2003 ini, ceramah di kelurahan dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2003 di Kelurahan Harjamukti dengan pembicara Srini P. Psy (phsikolog) dan dr. Gunawan dengan peserta sebanyak 30 orang.
Sedangkan rencana ceramah berikutnya yang dijadualkan bersama dengan BKKBN adalah pada tanggal 20 Juni 2003 yang bertempat di Kelurahan Panjunan dengan pembicara Irma Rosdiyanti,Psy (phsikolog) dan dr. Gunawan .
HOT LINE SERVICE KOTA CIREBON
Hotline service adalah sarana komunikasi dan tanya jawab yang dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan program UNFPA ini. Silahkan bertanya dan mengkonfirmasikan apapun tentang kejelasan program ini di telp. (0231) 203588 setelah pukul 13.00 (Senin ñ Jumíat).
Pengantar: Selain Kabupaten Sumedang, Kota Cirebon juga menerbitkan secara rutin Leaflet untuk kepentingan sosialisasi Program Siklus ke-6. Berikut ini di muat Leaflet Edisi 2 / Juni 2003, dengan kontibutor dari Dinkes, MCR, dan Kabid Sosbud Kota Cirebon. (idjaz).
Editorial (Sista ñ District Faciliator)
Dalam usaha meningkatkan pemahaman, kepekaan, pengetahuan dan sikap masyarakat sasaran dalam Kesehatan Reproduksi, Keluarga Berencana, Gender serta kependudukan dan Pembangunan. Departemen Kesehatan, BKKBN, dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan telah mengembangkan dan mencetak berbagai bahan KIE. Pada triwulan pertama telah didistribusikan leaflet, booklet dan poster. Bahan-bahan tersebut dimaksudkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut di lapangan. Dapatkanlah informasi yang sejelas-jelasnya mengenai kesehatan Reproduksi pada Puskesmas dan Rumah Sakit. Misalnya Infeksi Menular Seksual yang meliputi sphilis, gonorhea, HIV/AIDS, dll. Diri kita jangan sampai dihinggapi penyakit kelamin tersebut di atas. Bagaimana nasib anak dan cucu kita nantinya? Janganlah mengorbankan generasi sekarang hanya untuk mendapat jalan keluar yang sesaat.
BULLETIN CREWS
General Advisor : H.Bachrudin, Sjaroni, SE, MM
Co-Advisor : Dr.Kartini,
Suhardi, M.Kes
Editor : Sista Wahyu Murwani
Contributors : Suryadi, A.Resta S
Editorial Address :
DPCU ñ UNFPA , BAPPEDA Kota Cirebon
Jl. Dr. Ciptomangunkusumo No. 99
Telp./fax. (0231) 235588
FORUM KOMUNIKASI GENDER KOTA CIREBON
(Dr. Kartini S.M.Kes, Kabid Sosbud Bapeda Kota Cirebon)
Dalam upaya menjabarkan SK Walikota tentang pembentukan forum komunikasi, konsultasi dan koordinasi Gender kota Cirebon tanggal 16 Desember 2002, dalam bentuk adanya :
1.Pengurus Harian FORKOM GENDER
2.Penegasan tugas masing-masing seksi
3.Menyusun mekanisme penanganan kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Pembentukan Forum Komunikasi Gender (FORKOM GENDER) tersebut di atas merupakan tindak lanjut terhadap fenomena kekerasan khususnya yang berada di Kota Cirebon. Fenomena kekerasan merupakan persoalan bangsa yang harus dicarikan solusinya terutama kekerasan terhadap perempuan. Apalagi sekitar separuh penduduk Indonesia adalah perempuan yang memberikan arti bahwa kondisi perempuan di Indonesia merupakan salah satu indikator atau cerminan dari sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan indeks kualitas hidup di Indonesia digambarkan melalui Human Development Index (HDI) yang masih rendah dan tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Masih rendahnya kualitas sumber daya perempuan inilah salah satunya berakibat pada seringnya perempuan dijadikan korban kekerasan. Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia merupakan silet pandemic yang belum ada perhatian dari institusi terkait, baik kepolisian, kejaksaan, maupun Pengadilan. Namun dalam kenyataan bahwa kekerasan tersebut tidak hanya terjadi pada lingkungan yang kurang berpendidikan. Menurut data berbagai lembaga memperlihatkan, perempuan korban memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Cukup banyak perempuan korban yang juga berpendidikan tinggi. Perempuan korban kekerasan tersebut memerlukan tidak hanya layanan medis dan bantuan hukum untuk memulihkan, namun juga sangat membutuhkan layanan psikologis serta dukungan sosial dan sikap empati dari masyarakat untuk benar-benar mampu kembali berdaya.
Ternyata korban kekerasan tidak hanya kaum perempuan. Kita sering melihat pada berbagai media baik televisi dan media massa, anak-anak baik anak laki-laki ataupun perempuan pun menjadi korban kekerasan. Kejadian tersebut sering terungkap pada pemerkosaan anak, sodomi anak, penjualan anak. Baru-baru ini diberitakan baik di mass media dan televisi terjadi perlakuan sodomi pada 11 anak di kelurahan Drajat ñ Cirebon. Hal ini bisa saja terjadi di lingkungan sekitar kita. Apakah kita tetap tak peduli, tidak empati dan tidak memberikan dukungan sosial pada semua hal yang terjadi di lingkungan kita? MARI KITA SAMA-SAMA berupaya dalam melindungi anak dan perempuan khususnya di KOTA kita tercinta.
PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI
(Tim PKRE Dinas Kesehatan Kota Cirebon)
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi serta fungsi dan perannya. Karena setiap individu mempunyai hak untuk mengatur jumlah keluarga, kapan mempunyai anak dan mendapatkan penjelasan tentang cara-cara berkontrasepsi.
Begitu juga hak mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya seperti pelayanan antenatal, persalinan, nifas, BBL dan kesehatan remaja. Kesehatan Reproduksi meliputi meliputi 4 komponen yaitu kesehatan Ibu dan bayi baru lahir, KB, Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi termasuk PMS, HIV/AIDS dan Kesehatan Reproduksi Remaja. 4 komponen tersebut disebut PKRE (Paket Kesehatan Reproduksi Esensial). Apabila ditambah dengan kesehatan Reproduksi pada Usia Lanjut di sebut PKRK (Paket Kesehatan Reproduksi Komprehensif). Puskesmas Program UNFPA menyediakan layanan PKRE yaitu Kejaksaan, Nelayan, Gunungsari Sunyaragi, Jagasatru, Astanagarib, Kesunean Pesisir, Kalitanjung, PERUM.
KEGIATAN MITRA CITRA REMAJA
(Sri Maryati ñ MCR Kota Cirebon)
Kegiatan utama yang telah dilaksanakan oleh MCR dalam periode Mei-Juli 2003 diantaranya Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja pada tingkat kelurahan dan pelaksanaan TOT bagi pembina pramuka dan guru SD, SMP. Pada bulan April 2003 telah dilaksanakan kegiatan training teachers untuk program 10 ñ 14 tahun sebanyak 5 angkatan yang diikuti oleh 30 sekolah bertempat di Sekretariat Kwartir Cabang Kota Cirebon sedangkan pada bulan Juni 2003 dilaksanakan untuk 4 angkatan yang bertempat di Gedung Pemuda Kota Cirebon. Sampai dengan triwulan II tahun 2003 ini, ceramah di kelurahan dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2003 di Kelurahan Harjamukti dengan pembicara Srini P. Psy (phsikolog) dan dr. Gunawan dengan peserta sebanyak 30 orang.
Sedangkan rencana ceramah berikutnya yang dijadualkan bersama dengan BKKBN adalah pada tanggal 20 Juni 2003 yang bertempat di Kelurahan Panjunan dengan pembicara Irma Rosdiyanti,Psy (phsikolog) dan dr. Gunawan .
HOT LINE SERVICE KOTA CIREBON
Hotline service adalah sarana komunikasi dan tanya jawab yang dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang berkepentingan dan terkait dengan program UNFPA ini. Silahkan bertanya dan mengkonfirmasikan apapun tentang kejelasan program ini di telp. (0231) 203588 setelah pukul 13.00 (Senin ñ Jumíat).
Tuesday, August 05, 2003
BEBERAPA EMAIL
CHANDRA NURHASZ, DF PONTIANAK
Dear pak idjaz, banyak yang bilang ke saya 'mbak'. padahal saya lelaki sejati, lalaki lalanang jagad. malah sebentar lagi mau menikahi wanita tulen, cakep lagi. thanx, we're gonna keepin' touch. chandra nurhasz, DF Kota PTK, 1 Agustus 2003 ( red: Selamat Kawin, Jangan lupa OVI-nya P05, 100% condom use)
CHANDRA NURHASZ, DF PONTIANAK
Dear pak idjaz, banyak yang bilang ke saya 'mbak'. padahal saya lelaki sejati, lalaki lalanang jagad. malah sebentar lagi mau menikahi wanita tulen, cakep lagi. thanx, we're gonna keepin' touch. chandra nurhasz, DF Kota PTK, 1 Agustus 2003 ( red: Selamat Kawin, Jangan lupa OVI-nya P05, 100% condom use)
Monday, August 04, 2003
CUCILAH TANGANMU !!!!
oleh: Idjaz, dikirim oleh rekan-rekan Indonesian Planners Association
Tigapuluh tiga laki-laki yang pipis di salah satu toilet Jakarta Hilton Convention Center(JHCC), Jakarta, Jumat (15/6), diamati. Dari tiap 10
orang, delapan di antaranya tak mencuci tangan sehabis pipis. Delapan orang inilah yang mendistribusikan bakteri salmonella, campylobacter, dan E coli ke orang-orang lain lewat jabat tangan, genggaman sayang, atau sentuhan.
Dia melenggang keluar dari toilet di sebelah kanan JHCC. Berdasi dan berjas. Seorang wanita menunggu dipintu masuk pameran komputer yang tengah digelar di tempat itu. Mereka ke dalam saling berpegangan tangan. Keduanya sama-sama muda. Agaknya wanita itu kekasihnya. Tak ada maksud mengusik kehidupan laki-laki itu. Dia kebetulan 1 dari 24 orang yang sehabis pipis tak mencuci tangannya. Duapuluh empat dari 33 yang diamati.
Mudah-mudahan tak terjadi, tapi genggaman sayang laki-laki itu bisa membuat perempuan itu--kepada siapa dia mungkin pernah mengatakan siap berkorban nyawa--menjadi kena diare ketika makan tanpa mencuci tangan. Lebih parah lagi ia terkena tifus. Tangan laki-laki itu sangat kotor dan kini kotoran itu hijrah ke tangan kekasihnya. Sabun bahkan tak sanggup membersihkan semua kuman pada tangannya, kecuali mencucinya dengan sangat cermat.
Seperti diungkapkan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Rakyat Sujudi suatu kali, mencuci tangan dengan sabun setelah pergi ke toilet hanya menurunkan peluang serangan diare 35-65 persen. Jika tak percaya tangan yang kelihatan bersih itu banyak membawa kuman, sebuah penelitian yang dipublikasikan pekan lalu (11/6) di Inggris mungkin dapat meyakinkan Anda. Sedikit lebih baik dibanding sampel di toilet JHCC, sepertiga laki-laki dan banyak wanita Inggris tak mencuci tangannya sesudah pergi ke toilet. Alasan dua ribu responden penelitian yang digelar program 'National Food Safety Week' itu hampir seragam. Sebagian dari mereka berpikir toilet yang mereka masuki dalam keadaan bersih, sebagian lainnya berpikir mereka tak memegang apapun selain milik sendiri, dan satu dari tiap lima orang mengatakan mereka tak perlu mencuci tangan karena tangannya nampak bersih.
Menurut para peneliti itu, tak ada satu alasan pun yang benar. Kuman memang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Perlu mikroskop atau teknik pembiakan khusus untuk melihatnya. Untuk membuktikannya, para peneliti itu meminta mereka meletakkan tangannya yang tak dicuci pada permukaan agar-agar--media pembiakan untuk kebanyakan mikroorganisma. Mereka kemudian diminta melakukannya sekali lagi, tapi setelah tangannya dibasuh air.
Dalam pengamatan di bawah sinar ultraviolet, tampak tangan mereka dipenuhi mikroorganisma. Para peneliti mengidentifikasi, mikroorganisma terlazim pada tangan mereka adalah salmonella, campylobacter, dan E coli.
"Suatu kali, ketika Anda bertemu seseorang dan menjabat tangannya, ada 1 dari tiap 5 orang yang tak selalu mencuci tangan sehabis pergi dari toilet," kata Professor Hugh Pennington, pakar mikrobiologi University of Aberdeen, mengomentari penelitian ini.
Jangan sangka persoalan itu hanya ada di Inggris. Perilaku dan semuabakteri itu juga ada di sini, dalam jumlah lebih banyak, karena
cuaca yang lebih hangat. Kurang lebih, tak kurang dari 37 jenis penyakit bisa ditimbulkan kuman-kuman itu--dari sekadar diare, tifus, kholera, disentri, infeksi kulit, scabies, lepra dan frambusia. Untuk diare saja, meski tak semuanya karena tangan yang kotor, setiap menit terdapat 15 orang terkena diare atau 300 kasus per seribu penduduk.
Sementara tifus, prevalensinya sekitar 600-800 per 100 ribu orang, terjadi sepanjang tahun. Di tempat penelitian ini digelar, diare
dan penyakit asal makanan juga menjadi masalah kesehatan yang cukup dominan.
Tahun lalu, menurut John Krebs, pimpinan Food Standards Agency, tak kurang 4,5 juta orang Inggris sakit perut, meski yang dilaporkan ke pihak berwenang kurang dari 100 ribu orang. Menurut catatan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL), diare menjadi penyebab kematian kedua pada Balita di Indonesia setelah penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Jadi, cuci tanganlah!!!!.
SPON CUCI PIRING
Spon membantu melenyapkan kotoran pada berbagai perkakas dapur. Eliane Endres, mahasiswi mikrobiologi University of Sao Paolo, Brasil, menemukan spon juga gudang bibit penyakit. Menurut Endres, yang mempresentasikan hasil temuannya dalam pertemuan tahunan American Society for Microbiology, dari 50 spon yang diteliti 86 persennya menunjukkan kontaminasi oleh seratus juta hingga satu milyar mikroorganisme. Sebanyak 70 persen spon mengandung bakteri coli dalam jumlah tinggi, dengan 38 persen di antaranya berupa coli dari tinja. Saureus juga ditemukan pada kurang lebih 34 persen sampel. Sebagian besar mikroorganisma itu diketahui berasal dari sumber yang tak terduga--sisa makanan di piring, terutama bahan-bahan makanan mentah seperti daging unggas dan sayuran.
UANG KERTAS
Uang barangkali barang yang terkarib untuk siapa pun dan salah satu yang paling kerap berpindah tangan. Bagi kesehatan, itu hanya berarti, uang menjadi alat pemindah penyakit. Begitulah memang. Belum lama ini para peneliti Wright Patterson Medical Center di Dayton, Ohio, menemukan dari 68 uang lembar satu dolaran, lima lembar di antaranya mengandung bakteri penyebab infeksi langsung dan 59 lembar lainnya (87 persen) tercemar bakteri yang dapat menginfeksi orang dengan gangguan sistem kekebalanópengidap AIDS atau kanker. Hanya empat lembar uang yang relatif bersih dari kuman.
Tak ada cara untuk mencegah penyebaran bakteri melalui alat pembayaran paling populer itu. Menurut salah seorang peneliti, Dr Peter Ender, yang dapat dilakukan adalah berusaha tak menyentuh mata, hidung dan mulutógerbang masuk bakteri ke tubuh-setelah memegangnya. "Segera cuci tangan setelah memegangnya," Ender menganjurkan. Sekali lagi, cuci tangan!!!!
oleh: Idjaz, dikirim oleh rekan-rekan Indonesian Planners Association
Tigapuluh tiga laki-laki yang pipis di salah satu toilet Jakarta Hilton Convention Center(JHCC), Jakarta, Jumat (15/6), diamati. Dari tiap 10
orang, delapan di antaranya tak mencuci tangan sehabis pipis. Delapan orang inilah yang mendistribusikan bakteri salmonella, campylobacter, dan E coli ke orang-orang lain lewat jabat tangan, genggaman sayang, atau sentuhan.
Dia melenggang keluar dari toilet di sebelah kanan JHCC. Berdasi dan berjas. Seorang wanita menunggu dipintu masuk pameran komputer yang tengah digelar di tempat itu. Mereka ke dalam saling berpegangan tangan. Keduanya sama-sama muda. Agaknya wanita itu kekasihnya. Tak ada maksud mengusik kehidupan laki-laki itu. Dia kebetulan 1 dari 24 orang yang sehabis pipis tak mencuci tangannya. Duapuluh empat dari 33 yang diamati.
Mudah-mudahan tak terjadi, tapi genggaman sayang laki-laki itu bisa membuat perempuan itu--kepada siapa dia mungkin pernah mengatakan siap berkorban nyawa--menjadi kena diare ketika makan tanpa mencuci tangan. Lebih parah lagi ia terkena tifus. Tangan laki-laki itu sangat kotor dan kini kotoran itu hijrah ke tangan kekasihnya. Sabun bahkan tak sanggup membersihkan semua kuman pada tangannya, kecuali mencucinya dengan sangat cermat.
Seperti diungkapkan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Rakyat Sujudi suatu kali, mencuci tangan dengan sabun setelah pergi ke toilet hanya menurunkan peluang serangan diare 35-65 persen. Jika tak percaya tangan yang kelihatan bersih itu banyak membawa kuman, sebuah penelitian yang dipublikasikan pekan lalu (11/6) di Inggris mungkin dapat meyakinkan Anda. Sedikit lebih baik dibanding sampel di toilet JHCC, sepertiga laki-laki dan banyak wanita Inggris tak mencuci tangannya sesudah pergi ke toilet. Alasan dua ribu responden penelitian yang digelar program 'National Food Safety Week' itu hampir seragam. Sebagian dari mereka berpikir toilet yang mereka masuki dalam keadaan bersih, sebagian lainnya berpikir mereka tak memegang apapun selain milik sendiri, dan satu dari tiap lima orang mengatakan mereka tak perlu mencuci tangan karena tangannya nampak bersih.
Menurut para peneliti itu, tak ada satu alasan pun yang benar. Kuman memang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Perlu mikroskop atau teknik pembiakan khusus untuk melihatnya. Untuk membuktikannya, para peneliti itu meminta mereka meletakkan tangannya yang tak dicuci pada permukaan agar-agar--media pembiakan untuk kebanyakan mikroorganisma. Mereka kemudian diminta melakukannya sekali lagi, tapi setelah tangannya dibasuh air.
Dalam pengamatan di bawah sinar ultraviolet, tampak tangan mereka dipenuhi mikroorganisma. Para peneliti mengidentifikasi, mikroorganisma terlazim pada tangan mereka adalah salmonella, campylobacter, dan E coli.
"Suatu kali, ketika Anda bertemu seseorang dan menjabat tangannya, ada 1 dari tiap 5 orang yang tak selalu mencuci tangan sehabis pergi dari toilet," kata Professor Hugh Pennington, pakar mikrobiologi University of Aberdeen, mengomentari penelitian ini.
Jangan sangka persoalan itu hanya ada di Inggris. Perilaku dan semuabakteri itu juga ada di sini, dalam jumlah lebih banyak, karena
cuaca yang lebih hangat. Kurang lebih, tak kurang dari 37 jenis penyakit bisa ditimbulkan kuman-kuman itu--dari sekadar diare, tifus, kholera, disentri, infeksi kulit, scabies, lepra dan frambusia. Untuk diare saja, meski tak semuanya karena tangan yang kotor, setiap menit terdapat 15 orang terkena diare atau 300 kasus per seribu penduduk.
Sementara tifus, prevalensinya sekitar 600-800 per 100 ribu orang, terjadi sepanjang tahun. Di tempat penelitian ini digelar, diare
dan penyakit asal makanan juga menjadi masalah kesehatan yang cukup dominan.
Tahun lalu, menurut John Krebs, pimpinan Food Standards Agency, tak kurang 4,5 juta orang Inggris sakit perut, meski yang dilaporkan ke pihak berwenang kurang dari 100 ribu orang. Menurut catatan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL), diare menjadi penyebab kematian kedua pada Balita di Indonesia setelah penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Jadi, cuci tanganlah!!!!.
SPON CUCI PIRING
Spon membantu melenyapkan kotoran pada berbagai perkakas dapur. Eliane Endres, mahasiswi mikrobiologi University of Sao Paolo, Brasil, menemukan spon juga gudang bibit penyakit. Menurut Endres, yang mempresentasikan hasil temuannya dalam pertemuan tahunan American Society for Microbiology, dari 50 spon yang diteliti 86 persennya menunjukkan kontaminasi oleh seratus juta hingga satu milyar mikroorganisme. Sebanyak 70 persen spon mengandung bakteri coli dalam jumlah tinggi, dengan 38 persen di antaranya berupa coli dari tinja. Saureus juga ditemukan pada kurang lebih 34 persen sampel. Sebagian besar mikroorganisma itu diketahui berasal dari sumber yang tak terduga--sisa makanan di piring, terutama bahan-bahan makanan mentah seperti daging unggas dan sayuran.
UANG KERTAS
Uang barangkali barang yang terkarib untuk siapa pun dan salah satu yang paling kerap berpindah tangan. Bagi kesehatan, itu hanya berarti, uang menjadi alat pemindah penyakit. Begitulah memang. Belum lama ini para peneliti Wright Patterson Medical Center di Dayton, Ohio, menemukan dari 68 uang lembar satu dolaran, lima lembar di antaranya mengandung bakteri penyebab infeksi langsung dan 59 lembar lainnya (87 persen) tercemar bakteri yang dapat menginfeksi orang dengan gangguan sistem kekebalanópengidap AIDS atau kanker. Hanya empat lembar uang yang relatif bersih dari kuman.
Tak ada cara untuk mencegah penyebaran bakteri melalui alat pembayaran paling populer itu. Menurut salah seorang peneliti, Dr Peter Ender, yang dapat dilakukan adalah berusaha tak menyentuh mata, hidung dan mulutógerbang masuk bakteri ke tubuh-setelah memegangnya. "Segera cuci tangan setelah memegangnya," Ender menganjurkan. Sekali lagi, cuci tangan!!!!